Di tengah hiruk-pikuk kota ilmu Baghdad , hiduplah seorang ilmuwan yang pikirannya selalu berjalan selangkah lebih jauh dari zamannya. Ia adalah Muhammad Ibn Muda Al-Khwarizmi , seorang cendekiawan Persia yang kelak dikenang dunia sebagai Bapak Aljabar . Pada masa itu, banyak orang mampu menghitung, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana menyelesaikan persoalan angka yang rumit secara teratur. Persoalan-persoalan matematika bagaikan benang kusut yang sulit diurai. Namun bagi Al-Khawarizmi, setiap masalah memiliki simpul yang bisa dibuka, asal seseorang sabar menelusuri ujungnya. Dengan ketekunan yang nyaris seperti seorang penyair yang merangkai kata, ia mulai menyusun cara-cara sistematis untuk menyelesaikan persoalan hitungan. Dari pemikirannya lahirlah sebuah karya besar berjudul Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala . Dalam buku itu, ia menjelaskan metode untuk menyederhanakan dan menyeimbangkan persamaan. Kata al-jabr sendiri berarti “menyatukan kembali bagia...
by. Erni Nurrahmawati ❁ SANG PELITA YANG LALAI DIPELUK💔 ❁ Ada yang terhilang di antara tumpukan kitab-kitabnya. Bukan lembaran yang koyak, bukan tinta yang memudar tapi sebuah nama " Al-Farabi" . Ia menulis tentang kebahagiaan, namun hidupnya sendiri adalah puisi panjang tentang kesendirian. Di kota yang gemerlap oleh kata-kata pujangga dan debat para ulama, ia justru memilih diam. Bukan karena tak punya suara, tapi karena suaranya terlalu jernih untuk diteriakkan. Ia lahir di sebuah kota kecil yang tak banyak tercatat, jauh dari pusat keriuhan. Sejak muda, ia sudah akrab dengan sunyi. Bagi Al-Farabi, sunyi bukanlah kekosongan tetapi ruang di mana kebenaran bisa bernafas lega. Ia menulis tentang "Kota Utama", sebuah tempat di mana keadilan dan kebijaksanaan bersemayam. Tapi di dunia nyata, ia justru hidup sebagai pendatang di negeri orang sebagai orang asing di Baghdad, asing di Damaskus, asing di mana-mana, bahkan mungkin asing di dalam dirinya sendiri. Karyanya ...