Langsung ke konten utama

SANG PELITA YANG LALAI DIPELUK💔

by. Erni Nurrahmawati

❁ SANG PELITA YANG LALAI DIPELUK💔 ❁

Ada yang terhilang di antara tumpukan kitab-kitabnya. Bukan lembaran yang koyak, bukan tinta yang memudar tapi sebuah nama "Al-Farabi". Ia menulis tentang kebahagiaan, namun hidupnya sendiri adalah puisi panjang tentang kesendirian. Di kota yang gemerlap oleh kata-kata pujangga dan debat para ulama, ia justru memilih diam. Bukan karena tak punya suara, tapi karena suaranya terlalu jernih untuk diteriakkan.

Ia lahir di sebuah kota kecil yang tak banyak tercatat, jauh dari pusat keriuhan. Sejak muda, ia sudah akrab dengan sunyi. Bagi Al-Farabi, sunyi bukanlah kekosongan tetapi ruang di mana kebenaran bisa bernafas lega. Ia menulis tentang "Kota Utama", sebuah tempat di mana keadilan dan kebijaksanaan bersemayam. Tapi di dunia nyata, ia justru hidup sebagai pendatang di negeri orang sebagai orang asing di Baghdad, asing di Damaskus, asing di mana-mana, bahkan mungkin asing di dalam dirinya sendiri.

Karyanya seperti musik yang dimainkan untuk ruang kosong. Kitab al-Musiqin al-Kabir bukan hanya tentang nada dan irama, tetapi tentang harmoni jiwa yang ia rindukan, namun tak pernah benar-benar ia rasakan. Ia menggambarkan filsuf sebagai "penerang masyarakat", tapi dalam hidupnya, ia lebih sering menjadi pelita yang menyala sendiri, di kamar sempit, di tengah malam yang panjang. Mungkin ini adalah luka yang paling dalam mengetahui kebenaran, namun melihat dunia berpaling. Ia menulis tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama, tentang kepemimpinan yang bijak, tentang negara yang adil tapi di luar jendelanya, kekuasaan berganti dengan darah, dan kata-kata kebijaksanaan tenggelam dalam bisik-bisik istana

Ada sebuah kisah yang jarang diceritakan yaitu di akhir hidupnya, di Damaskus, ia sering terlihat duduk sendiri di taman istana, membaca sambil sesekali menatap langit. Seorang pelayan pernah bertanya:

"Guru, apakah guru tidak kesepian? "

Al-Farabi hanya tersenyum tipis:

"Aku tidak sendirian. Aku ditemani semua fikiran yang belum sempat aku tuliskan. "

Tapi di balik senyum itu, ada getir yang tak terungkap. Ia seperti pohon yang menghabiskan hidupnya untuk berbuah, tapi tak pernah ada yang benar-benar memetik buah itu untuk dinikmati. Buahnya jatuh, mengering, menjadi bagian dari tanah yang akan melupakan.

Ia meninggal dalam kesederhanaan yang nyaris tak berjejak. Tak banyak yang melayat. Tak ada prasasti megah. Namanya menghilang dari ingatan dunia, sebelum akhirnya berabad-abad kemudian baru ditemukan kembali seperti arsip usang di gudang sejarah. Saat dunia Barat mengenal "Aferroes" dan "Avicenna", nama Al-Farabi tetap tergeletak di pinggiran, samar-samar, seperti bayangan di sore hari.

Tapi di setiap kali ada mahasiswa filsafat yang bertanya: "Bagaimana menyatukan akal dan iman?".

Di setiap kali ada pemimpin yang dalam hening malam merenungkan arti keadilan sejati, Di setiap kali ada manusia yang mencari "Kebahagiaan" bukan di dunia, tapi di kedalaman jiwa, disanalah Al-Farabi hadir. 

Namanya tidak terpahat untuk dikenang. Ia adalah sisa desau dalam kesunyian metafisik, cahaya yang memilih untuk bersemayam dalam potensinya yang murni. Seperti sebuah bintang yang bersinar di alam kemungkinan, ia menjadi pelita yang kehadirannya tidak bergantung pada penglihatan, melainkan pada prinsip keteguhan cahaya itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...

CAHAYA HARAPAN BAGI MAHASISWA YANG SELALU BERUSAHA

" Cahaya Harapan bagi Mahasiswa yang Selalu Berusaha" Karya: Mohammad Wildan Sulton Alifi Cahaya Harapan bagi Mahasiswa yang Selalu Berusaha Pernah aku merasa langkahku berat, bukan karena tak kuat, tapi karena dunia seakan bergerak terlalu cepat. Target demi target berlari di depan mata, sementara aku masih mencoba berdiri dengan kaki sendiri. Setiap pagi dimulai dengan tekad, tapi kadang malam datang membawa cemas. Tugas menumpuk, jadwal padat, mimpi-mimpi yang terasa jauh, dan aku bertanya, “Apakah semua ini akan sepadan?” Di ruang kelas, di perpustakaan, di organisasi yang penuh semangat, aku lihat wajah-wajah yang juga lelah, tapi tetap tersenyum, menyembunyikan beban di balik kata "baik-baik saja." Namun di tengah gelapnya rasa ragu, ada cahaya kecil yang terus menyala. Dari pelukan keluarga di ujung telepon, dari dosen yang berkata “kamu bisa,” dari teman seperjuangan yang diam-diam jadi alasan untuk tetap kuat. Aku sadar, usaha ini bukan tentang sempurna, ta...