Langsung ke konten utama

Jiwa Muda dan Pendidikan

 


    Jiwa muda-mudi selalu unik. Mereka memiliki ambisi yang kuat, intuisi yang tajam, dan mimpi yang besar. Hal-hal hebat rasanya dapat mereka miliki jika mereka mau. Tidak hanya mau, sebenarnya dunia juga mengharuskan mereka untuk “mampu”. Menuju kata “mampu” memerlukan perjuangan dari masa jatuh bangun yang tidak mudah. Masa-masa menyenangkan yang rasanya sayang untuk dilewatkan oleh jiwa-jiwa muda ini terkadang menjadi hal yang cukup mempengaruhi kualitas pendidikan dan karakter mereka. Padahal, di saat itu juga permintaan dunia dan penilaian sosial juga semakin berkembang.

    Karena menjadi bagian dari jiwa-jiwa muda itu sendiri. Kesulitan untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi antara pendidikan, pertemanan, hingga hal-hal eksternal. Juga yang tidak bisa ditinggalkan, urusan yang ada dalam kehidupan keluarga. Namun, bukankah itu bagian dari semesta mendidik kita? Dengan begitu, akan terciptalah manusia-manusia tangguh yang dapat membaca pertanda semesta, menyeimbangkan kehidupan, hingga berdamai dengan segala tekanan yang disajikan.

    Jiwa muda adalah jiwa yang bebas. Mereka adalah jiwa yang paling senang mengeksplorasi hal baru. Bagi mereka, pendidikan bukan hanya sekadar ilmu pasti yang diajarkan instansi formal. Untuk mereka, bertemu dengan orang baru adalah bagian dari belajar. Sekadar mengobrol bertukar pikiran yang tak jarang menimbulkan perdebatan sengit tapi berakhir begitu saja ketika mereka “menyeruput kopi” bersama juga merupakan cara yang begitu dinikmati untuk mendapatkan ilmu baru.

    Penilaian tentang pendidikan lalu berkembang menjadi “tidak seformal itu”. Apalagi menjadi seorang pelajar atau mahasiswa di modern saat ini. Terkadang kualitas mereka diragukan masyarakat yang sebenarnya juga diragukan kualitas cara berpikirnya. Padahal, sebenarnya kehidupan pendidikan tidak semudah itu.

    Menghadapi tuntutan pendidikan di tengah zaman modern seharusnya lebih menambah toleransi. Tentu tanpa melangkahi batasan yang telah disepakati. Menjadi lebih terbuka untuk menghindari kesalahpahaman antara yang tua dan yang muda terkadang menjadi penyelesaian terbaik. Tidak hanya terbuka, tetapi juga kemampuan untuk saling memahami dan menerima pada akhirnya. Namun, rasanya, begitu banyak masalah pendidikan yang dihadapi ketika semua sedang menderita karena pandemi di negeri ini. Semangat ala muda-mudi dirasa sedang surut. 

    Kesulitan dan tekanan pendidikan di masa modern yang semakin banyak sepertinya menjadi alasan yang kuat untuk mereka cepat merasa lelah hingga lupa dengan segala ambisi yang membara sebelumnya. Tidak jarang mereka lupa menyertakan hati ketika memenuhi kewajiban sebagai pelajar. Hal utama yang berada di pikiran adalah keinginan untuk segera menyelesaikan salah satu kesibukan yang menuntut.

    Sebenarnya, menjadi tugas bersama untuk saling menjaga semangat satu dan yang lainnya. Semangat untuk mengabdi pada negeri, untuk berani bermimpi, dan untuk bertahan di tengah tekanan. Namun, banyak dari kita yang lupa. Lupa bahwa sebenarnya pendidikan tetap menjadi hal yang paling penting untuk para jiwa muda. Kita banyak terlena dengan segala toleransi yang diberikan hingga terkadang tanpa sadar justru menurunkan kualitas diri sendiri. Bukankah kita bisa saling hadir sebagai pengingat untuk tidak menurunkan standar pemuda Indonesia?

    Sebagai pemuda-pemudi Indonesia, bukankah dengan segala fasilitas yang ada kita bisa menjadi seseorang dengan mimpi tanpa batas? Bahkan jika tidak memiliki banyak hal yang mendukung di belakang kita, sebenarnya kita mampu dengan hanya mengingat bahwa kita adalah jiwa muda. Jiwa muda yang selalu dapat melangkahkan kakinya menuju segala mimpi dan ambisi yang dimiliki. Jiwa muda yang bisa menghadirkan tulus hatinya untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan membawa berkat untuk semesta.


Kamis, 13 Juli 2023


Afilliana Nurussa'adah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...