Langsung ke konten utama

Emansipasi Perempuan di Era Disrupsi



Berbicara mengenai emansipasi perempuan di era yang sekarang ini, apakah benar-benar sudah ada bentuk emansipasi bagi para perempuan? Ataukah masih ada perempuan yang diperbudak?

Di negara Indonesia ini, ketika kita mengulas terkait emansipasi perempuan tentunya tidak bisa lepas dari salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yaitu R.A. Kartini. Dengan segenap hati dan jiwanya R.A. Kartini berjuang agar para perempuan di Indonesia tidak tertindas, sekaligus membebaskan mereka dari rasa perbudakan.

Di era disrupsi ini, sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Perubahan besar terjadi setidaknya disebabkan oleh adanya revolusi 4.0. Lalu bagaimana sikap yang tepat dalam menghadapi era disrupsi ini? Dengan tidak berhenti berinovasi yang senantiasa selalu mempunyai ide dan gagasan pembaharuan, mampu memanfaatkan teknologi dan dapat berorientasi pada siapapun.

Sebenarnya ini bisa dijadikan sebuah momen bagi para perempuan untuk berperan andil didalamnya. Dimana perempuan dapat bekerja di industri digital. Teknologi yang ada akan dapat membantu para perempuan untuk dimanfaatkan sebagai peluang bisnis. Namun, literasi digital bagi para perempuan perlu diperhatikan bagaimana cara memanfaatkan teknologi tersebut dalam keseharian mereka. Bahkan yang seperti itu tidak hanya perempuan saja, tapi para generasi muda pun banyak yang sedemikian. Untuk itu perlu pemanfaatan teknologi dengan baik. Kalau dilihat sekarang begitu banyak orang yang memanfaatkan literasi digital ini hanya untuk melampiaskan sebuah perasaan. Bisa dikatakan bahwa sosial media ini dijadikan tempat curhat bagi permasalahan mereka. Jika teknologi hanya dimanfaatkan untuk itu-itu saja dan tetap mempunyai pola pikir yang tetap seperti itu, maka sama halnya mereka diperbudak oleh pola pikirnya sendiri. Tidak seharusnya itu dijadikan sebuah kebiasaan keseharian, karena kebiasaan itulah yang nantinya menjadi pola pikir atau mindset dari seseorang. Mindset sendiri mempunyai andil besar dalam keberhasilan hidup seseorang. Oleh karena itu perlulah memperbaiki mindset. Sebagai generasi millenial cukuplah memperbudak diri sendiri yang selalu berkutat pada pola pikir. Jika masih terjebak pada pola pikir yang sedemikian penjelasan di atas tadi, maka akan sangat sulit untuk menjadi seperti sosok R.A. Kartini dahulu.

Nah di era disrupsi ini perempuan harus bisa menjadi sosok Kartini muda, yang mempunyai kepribadian dan pola pikir yang lebih baik, serta memiliki power untuk mendobrak segala permasalahan dan melahirkan generasi penerus yang luar biasa dengan dapat berfikir secara logis, rasional akan informasi yang diterimanya, sekaligus dapat mengetahui mana yang menjadikan sebuah kemunduran dan mana yang dapat menopang keberhasilan kedepannya. Para Kartini millenial dapat mengutamakan pendidikan sebagai kunci keberhasilan negara Indonesia, salah satunya untuk melawan radikalisme. Serta dapat menjadikan generasi millenial yang mempunyai bentuk kepribadian cerdas, inovatif, mandiri dan menumbuhkan rasa nasionalisme. Sudah kita ketahui pula sangat begitu banyak makna yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, dimana perempuan di jaman sekarang sudah bisa bebas berekspresi, mendapatkan haknya dalam pendidikan, pintu terbuka lebar untuk kesempatan perempuan dalam berkarya dan masih banyak lagi lainnya.

Itulah yang menjadi tantangan bagi para perempuan Indonesia dalam menjalankan peran dan fungsinya di era disrupsi ini. Tentu itu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Bagi para perempuan yang sudah mampu membangkitkan kualitas dirinya, maka akan semakin banyak ruang yang terbuka lebar untuknya. Dan nantinya segala bentuk emansipasi perempuan akan muncul dengan sendirinya. Para perempuan bisa saja selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Tak hanya laki-laki saja yang harus bersuara, perempuan pun juga dapat ikut andil didalamnya. Saat perempuan dapat berkontribusi banyak dalam pengambilan keputusan, tidak menutup kesempatan pula seorang perempuan dapat dijadikan seorang pemimpin. Tak jarang, dari kebanyakan orang yang masih beropini atau beranggapan bahwasanya perempuan itu tidak mampu ketika menjadi seorang pemimpin. Pada dasarnya perempuan adalah pihak yang paling mengetahui kebutuhan, permasalahan dan solusi dari isu-isu yang dihadapi oleh kaumnya sendiri. Oleh karena itu kepemimpinan dan keterlibatan dari seorang perempuan sangatlah penting dalam pengambilan keputusan.

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” -RA Kartini-

Mungkin dari masa ke masa masih banyak opini tentang perempuan pemimpin. Untuk itu sekarang seharusnya bisa berpikir lebih dinamis, tidak lagi beropini bahwa perempuan itu tidak mampu memimpin, mereka sebenarnya sangatlah mampu untuk menjadi pemimpin.

Semoga ini dapat menginspirasi kita semua, khusus bagi kaum hawa untuk mendorong kepercayaan diri mereka, sekaligus menjadikan hidup mereka lebih bermakna dan lebih semangat lagi.

“Perempuan itu tidaklah lemah, yang lemah ialah mereka yang mengatakannya, karena takut akan kemampuan dalam diri perempuan tersebut.” -Bagas Amilun-

 

Kediri, 19 April 2022

Bagas Amilun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...