Langsung ke konten utama

Stigma Kelam Yang Tak Kunjung Hilang

 


Banyak dari masyarakat yang masih terobsesi dengan pemikiran terdahulu yang menganggap remeh perempuan. Tanpa disadari stigma tersebut dapat merusak mental kita para perempuan dan menjadikan mayoritas perempuan ragu akan kemampuannya. Lebih memilih memendam dari pada harus mendapat hinaan.

 

Kebanyakan masyarakat bilang bahwa perempuan kodratnya di dapur, mengurus rumah, dan menjaga anak. Bahkan juga ada asumsi tidak ada guna perempuan sekolah tinggi, karena ujungnya akan tetap jadi ibu rumah tangga. Stigma itu seakan-akan meremehkan perempuan karir, dan menganggap lemah tinggi pendidikan perempuan. Sehingga mereka harus memilih salah satu antara karir dan keluarga, serta mengorbankan satu diantaranya. Pilihan yang menjadi tantangan bagi perempuan. Berkarir dianggap pilihan melawan kodrat, sedangkan ibu rumah tangga membuat perempuan dinilai mengorbankan bakat. Hal itu akan memicu persaingan yang tidak setara, laki-laki menjadi lebih superior dalam lingkungan kerja dan perempuan dituntut oleh stigma masyarakat yang tak kunjung sirna. Padahal beberapa riset membuktikan bahwa semakin sejahtera perempuan, semakin maju ekonomi negaranya.


Emosional perempuan lebih tinggi dari laki-laki, namun logika laki-laki lebih jeli dari perempuan. Apa karena hal itu perempuan tidak bisa jadi pemimpin? Apa harus selalu laki-laki yang jadi pemimpin?

Akibat patriarki, perempuan kehilangan haknya untuk menjadi pemimpin. Cita-cita menjadi pemimpin dunia, terhalang oleh api dalam tungku yang harus dijaga agar tetap menyala. Sebuah ambisi yang dianggap bertentangan dengan tradisi. Mereka hanya diberi hak menjadi pemimpi yang hanya bisa bertahan di alam pikir. Apakah sekarang masih berlaku? Sekarang perempuan sudah diberikan ruang menjadi pemimpin*katanya. Namun jika dilihat persentase ruang pemimpin untuk perempuan masih jauh dibandingkan laki-laki. Sebenarnya ada banyak faktor yang menghambat kesetaraan itu. Bisa dari ruang yang diberikan memang kurang luas, stigma yang terus menghantui, atau bahkan dari diri perempuan itu sendiri belum memberi kebebasan.


Kata ustadz Felix perempuan itu lucu, sering kali menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Membenci laki-laki karena mereka penyebab perempuan direndahkan. Namun ketika memperjuangkan kesetaraan, laki-laki dijadikan sebagai standart.

 

Perempuan seharusnya saling bergandengan tangan, bukan malah saling menjatuhkan. Saling menguatkan, bukan malah saling menghancurkan.


"Sebenarnya kita tidak perlu membuktikan apapun ke siapapun. Satu-satunya orang yang perlu pembuktian adalah diri kita sendiri".


Percaya bahwa kita bisa,

Percaya bahwa kita mampu,

Maka dunia juga akan percaya pada kita.

 

Kediri, 24 Oktober 2022

Zulfa Mufidatul Inayah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...