Banyak dari masyarakat yang masih terobsesi dengan pemikiran
terdahulu yang menganggap remeh perempuan. Tanpa disadari stigma tersebut dapat
merusak mental kita para perempuan dan menjadikan mayoritas perempuan ragu akan
kemampuannya. Lebih memilih memendam dari pada harus mendapat hinaan.
Kebanyakan masyarakat bilang bahwa perempuan kodratnya di
dapur, mengurus rumah, dan menjaga anak. Bahkan juga ada asumsi tidak ada guna
perempuan sekolah tinggi, karena ujungnya akan tetap jadi ibu rumah tangga.
Stigma itu seakan-akan meremehkan perempuan karir, dan menganggap lemah tinggi
pendidikan perempuan. Sehingga mereka harus memilih salah satu antara karir dan
keluarga, serta mengorbankan satu diantaranya. Pilihan yang menjadi tantangan
bagi perempuan. Berkarir dianggap pilihan melawan kodrat, sedangkan ibu rumah
tangga membuat perempuan dinilai mengorbankan bakat. Hal itu akan memicu
persaingan yang tidak setara, laki-laki menjadi lebih superior dalam lingkungan
kerja dan perempuan dituntut oleh stigma masyarakat yang tak kunjung sirna.
Padahal beberapa riset membuktikan bahwa semakin sejahtera perempuan, semakin
maju ekonomi negaranya.
Emosional perempuan lebih tinggi dari laki-laki, namun logika laki-laki lebih
jeli dari perempuan. Apa karena hal itu perempuan tidak bisa jadi pemimpin? Apa
harus selalu laki-laki yang jadi pemimpin?
Akibat patriarki, perempuan kehilangan haknya untuk menjadi
pemimpin. Cita-cita menjadi pemimpin dunia, terhalang oleh api dalam tungku
yang harus dijaga agar tetap menyala. Sebuah ambisi yang dianggap bertentangan
dengan tradisi. Mereka hanya diberi hak menjadi pemimpi yang hanya bisa
bertahan di alam pikir. Apakah sekarang masih berlaku? Sekarang
perempuan sudah diberikan ruang menjadi pemimpin*katanya. Namun jika
dilihat persentase ruang pemimpin untuk perempuan masih jauh dibandingkan
laki-laki. Sebenarnya ada banyak faktor yang menghambat kesetaraan itu. Bisa dari
ruang yang diberikan memang kurang luas, stigma yang terus menghantui, atau
bahkan dari diri perempuan itu sendiri belum memberi kebebasan.
Kata ustadz Felix perempuan itu lucu, sering kali menuntut kesetaraan antara
laki-laki dan perempuan. Membenci laki-laki karena mereka penyebab perempuan
direndahkan. Namun ketika memperjuangkan kesetaraan, laki-laki dijadikan
sebagai standart.
Perempuan seharusnya saling bergandengan tangan, bukan malah
saling menjatuhkan. Saling menguatkan, bukan malah saling menghancurkan.
"Sebenarnya kita tidak perlu
membuktikan apapun ke siapapun. Satu-satunya orang yang perlu pembuktian adalah
diri kita sendiri".
Percaya bahwa kita bisa,
Percaya bahwa kita mampu,
Maka dunia juga akan percaya pada kita.
Kediri,
24 Oktober 2022
Zulfa
Mufidatul Inayah
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar