Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat selain
membawa dampak positif, ternyata juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak
negatif yang cukup meresahkan adalah munculnya informasi palsu atau lebih
popular dikenal dengan istilah “hoax”.
Fenomena hoax semakin merajalela di dunia maya dan dengan mudahnya
penyebaran informasi melalui media sosial sehingga dapat menimbulkan beragam
opini masyarakat. Penyebaran berita hoax juga mampu membawa pada kerancuan
informasi dan kehebohan publik akan suatu informasi, bahkan dapat juga
berakibat pada perpecahan suatu bangsa.
Berdasarkan data Kominfo 9.546 hoaks telah tersebar di berbagai
platform media sosial di Internet mulai dari Agustus 2018 hingga awal 2022.
Hoax dapat menimbulkan keributan, keresahan, perselisihan bahkan ujaran
kebencian yang mengakibatkan tidak rukun antara warga.
Asal usul hoax
Asal usul hoax diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya yakni
‘hocus’ dari mantra ‘hocus pocus’, frasa yang kerap disebut oleh pesulap,
serupa istilah ‘sim salabim’. Salah satu hoax yang pernah menggemparkan adalah
ancaman asteroid menghantam bumi dan menyebabkan kiamat. Pada tahun 2015, NASA
membantah rumor tersebut.
Tujuan hoax diciptakan
Hoax biasanya sengaja dibuat untuk mencapai tujuan tertentu dan
mendapatkan keuntungan dari dampaknya. Informasi palsu akan lebih cepat viral
jika dibagikan dan semakin banyak visitors pada situs tersebut maka pemiliknya
akan mengantongi penghasilan berupa uang. Trafik visitors yang besar juga akan
meningkatkan kepopuleran situs tersebut. Dalam beberapa kasus, hoax juga
digunakan sebagai media untuk adu domba, menyebar fitnah, mencemarkan nama
baik, membuat kepanikan serta menjatuhkan orang atau golongan tertentu.
Bahaya dan dampak hoax
Hoax bisa menjadi pemicu munculnya keributan, keresahan,
perselisihan bahkan ujaran kebencian. Mengingat akan dampak buruknya, setiap
orang harus paham untuk menghindarinya. Selain itu, hoax juga bisa menganggu
kesehatan mental. Berikut dampak hoax jika terus dibiarkan, diantaranya: (1)
hoax dapat menimbulkan kecemasan dan memicu kepanikan publik. Pikiran menjadi
imajiner membayangkan keadaan secara berlebihan. Selain itu, hoax juga
mengganggu situasi emosional dan suasana hati yang berkepanjangan sampai
menghantui pikiran dalam waktu yang lama; (2) manipulasi dan kecurangan dapat
menjatuhkan manusia. Jika terus dibiarkan, penyebaran informasi palsu dapat
membentuk mental masyarakat ke arah pemahaman hoax. Mudah percaya dengan
informasi palsu tanpa melakukan perbandingan atau klarifikasi terhadap
sumbernya.
Cara menghindari hoax
1. Hati-hati dengan judul provokatif dan baca keseluruhan isi
informasi atau berita
Judul yang provokatif sering kali sengaja dibuat untuk menarik minat
dan rasa penasaran dari pembaca. Isinya pun bisa diambil dari informasi atau
berita media resmi, hanya saja direkayasa agar menimbulkan persepsi sesuai yang
dikehendaki oleh pembuat hoax. Oleh karenanya, apabila menjumpai informasi atau
berita dengan judul provokatif, sebaiknya mencari referensi serupa dari situs
online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda sehingga
setidaknya sebagai pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.
2. Jangan mudah percaya dengan foto atau video yang beredar
Di era teknologi digital sekarang ini, manipulasi terjadi tidak
hanya pada narasi teks. Pembuat hoax bisa saja mengedit foto dan video untuk
memprovokasi pembaca. Orang yang ahli dalam melakukan editing akan mampu
membuat hasil editan yang sulit lagi dibedakan keasliannya oleh orang awam.
Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dengan foto atau video yang beredar,
terlebih di dunia maya.
Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin
pencari Google, yaitu melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.
Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet
sehingga bisa dibandingkan.
3. Hati-hati membagikan informasi atau berita yang dibaca
Di zaman sekarang ini, diperlukan kecerdasan dan kedewasaan
berpikir dalam membagikan suatu informasi atau berita. Jangan mudah
terprovokasi dengan info-info yang tidak jelas asal usulnya yang disebarkan
oleh oknum tidak bertanggung jawab. Jangan asal share, terlebih bila
ditambah-tambahkan dengan hate speech atau ujaran kebencian hingga menimbulkan
kembali informasi yang tidak benar. Kita harus cerdas dalam menyaring informasi
mana yang berguna dan mana informasi yang tidak membawa manfaat. Saring sebelum
sharing.
Apabila menjumpai informasi hoax, bagaimana cara untuk mencegah
agar tidak tersebar?
Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang
tersedia di masing-masing media. Pada media sosial Facebook, gunakan fitur
Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hate speech/harrasment/rude/threatening,
atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari pengguna, biasanya
Facebook akan menghapus status tersebut.
Sedangkan untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk
melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu.
Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, sama
halnya dengan Instagram. Bagi pengguna internet, Anda juga dapat mengadukan
konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan
e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.
Minggu, 13 November 2022
Alfaizatu Rohmatul Maula
Komentar
Posting Komentar