Langsung ke konten utama

Apakah Perempuan Pantas Dimarginalkan?





    Tanpa kita sadari budaya patriarki masih berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. Mendahulukan kepentingan kaum adam dan mengesampingkan hak dari kaum hawa. Perempuan seringkali dituntut untuk serba bisa dan laki-laki dituntut untuk selalu kuat. Anak perempuan diminta mengalah dengan saudara laki-lakinya jika orang tuanya tak punya cukup uang untuk membiayai sekolah. Seringkali laki-laki yang akan dibiayai sekolah hingga selesai dan anak perempuan yang disuruh mengalah. Alasannya, karena laki-laki nantinya jadi tulang punggung keluarga, "Kalau perempuan kan nantinya hanya ikut suaminya saja" Katanya bagi sebagian masyarakat. Padahal kita tahu bahwa perempuan juga punya hak untuk belajar dan bekerja. 

    Perempuan dianggap nantinya hanya akan memasak, mengurus anak dan suami, serta mengurus rumah. Sehingga perempuan tidak perlu untuk sekolah tinggi-tinggi. "Percuma, buang-buang duit" Katanya. Sikap memarginalkan perempuan inilah yang perlu kita hilangkan. Konstruk masyarakat terhadap budaya patriarki dan pikiran bahwa kodrat perempuan hanyalah "masak, macak, manak" Juga sangat perlu diperbaiki. Namun, beberapa pihak dengan membawa background agama menentang akan adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Lantas, apakah perempuan akan selalu dimarginalkan?


Rabu, 10 Mei 2023 



Elsa Fina R. N. A





Komentar

Postingan populer dari blog ini

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

❁ JEJAK ANGKA SANG PELITA ILMU ❁

Di tengah hiruk-pikuk kota ilmu Baghdad , hiduplah seorang ilmuwan yang pikirannya selalu berjalan selangkah lebih jauh dari zamannya. Ia adalah Muhammad Ibn Muda Al-Khwarizmi , seorang cendekiawan Persia yang kelak dikenang dunia sebagai Bapak Aljabar . Pada masa itu, banyak orang mampu menghitung, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana menyelesaikan persoalan angka yang rumit secara teratur. Persoalan-persoalan matematika bagaikan benang kusut yang sulit diurai. Namun bagi Al-Khawarizmi, setiap masalah memiliki simpul yang bisa dibuka, asal seseorang sabar menelusuri ujungnya. Dengan ketekunan yang nyaris seperti seorang penyair yang merangkai kata, ia mulai menyusun cara-cara sistematis untuk menyelesaikan persoalan hitungan. Dari pemikirannya lahirlah sebuah karya besar berjudul Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala . Dalam buku itu, ia menjelaskan metode untuk menyederhanakan dan menyeimbangkan persamaan. Kata al-jabr sendiri berarti “menyatukan kembali bagia...

JEDA DARI ANGKA

 Jeda Dari Angka By: Nafiatus Salma        Hari-hari kutulis dengan rumus, penuh tanda tambah dan kurung yang tak selalu seimbang. Kadang hasilnya tepat, kadang justru tak bisa kuhitung. Di papan tulis hidup, aku belajar lebih dari sekadar integral dan limit — tentang batas kesabaran, dan luasnya hati yang tak bisa diukur satuan apa pun. Aku lelah, tapi tak ingin berhenti. Aku salah, tapi masih mau mencoba.        Karena hidup tak pernah sesempurna deret geometri, tapi lebih mirip soal cerita yang belum selesai. Maka malam ini, kututup buku catatan dan kubuka diri. Kusimpan angka, kutulis kata. Sebab kadang, yang paling membuat kita bertumbuh bukanlah hasil hitungannya, melainkan jeda yang kita ambil di antaranya