Langsung ke konten utama

Apakah Perempuan Pantas Dimarginalkan?





    Tanpa kita sadari budaya patriarki masih berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. Mendahulukan kepentingan kaum adam dan mengesampingkan hak dari kaum hawa. Perempuan seringkali dituntut untuk serba bisa dan laki-laki dituntut untuk selalu kuat. Anak perempuan diminta mengalah dengan saudara laki-lakinya jika orang tuanya tak punya cukup uang untuk membiayai sekolah. Seringkali laki-laki yang akan dibiayai sekolah hingga selesai dan anak perempuan yang disuruh mengalah. Alasannya, karena laki-laki nantinya jadi tulang punggung keluarga, "Kalau perempuan kan nantinya hanya ikut suaminya saja" Katanya bagi sebagian masyarakat. Padahal kita tahu bahwa perempuan juga punya hak untuk belajar dan bekerja. 

    Perempuan dianggap nantinya hanya akan memasak, mengurus anak dan suami, serta mengurus rumah. Sehingga perempuan tidak perlu untuk sekolah tinggi-tinggi. "Percuma, buang-buang duit" Katanya. Sikap memarginalkan perempuan inilah yang perlu kita hilangkan. Konstruk masyarakat terhadap budaya patriarki dan pikiran bahwa kodrat perempuan hanyalah "masak, macak, manak" Juga sangat perlu diperbaiki. Namun, beberapa pihak dengan membawa background agama menentang akan adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Lantas, apakah perempuan akan selalu dimarginalkan?


Rabu, 10 Mei 2023 



Elsa Fina R. N. A





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...