Langsung ke konten utama

People Pleaser Ternyata Menyesakkan?


Ini Tipsnya Biar Kamu Berhenti Menjadi People Pleaser.

    Psikolog UGM, Smita Dinakaramani, S.Psi., M.Ps., Psikolog., menjelaskan bahwa People Pleaser adalah pelabelan informal bagi individu yang memiliki keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain. People Pleaser ini basically membantu dengan motif untuk menyenangkan orang lain meski itu merugikan dirinya sendiri. Itu perbedaanya dengan orang yang benar-benar mau membantu, bisa memetakan kapasitasnya sampai mana bisa membantu atau tidak.

    Tidak bisa berkata TIDAK ternyata menyesakkan. Mungkin kamu khawatir orang lain kecewa jika kamu menolak, tapi pada akhirnya kamu sendiri yang kesusahan karena terus menyanggupi apa yang orang lain inginkan.

    Alasan kenapa kita susah banget buat bilang TIDAK sebenarnya simple. Karena kamu menganggap kata TIDAK itu buat menolak orangnya bukan menolak tugas atau beban yang mereka kasih ke kamu. Contoh teman kamu ngomong “ kamu bisakan jadi Bendahara? Aku lihat kamu berbakat banget disitu, Tolong Yaaa!.” kalau kamu tidak suka job desc Bendahara tapi disisi lain, kamu tidak enakkan sama temanmu coba ucapin “Terimakasih” buat mengapresiasi dia karena sudah percaya sama kamu, baru kemudian kamu bisa tolak tawarannya dengan bilang “Terimakasih Yaa sudah nawarin ke aku, Maaf banget ada tugas lain yang tidak bisa dikesampingin, takutnya nanti tugas aku  tidak maksimal, Coba tawarin ke si-A.” Penolakan yang seperti ini, sama sekali tidak salah kalau kata buku LAGOM Not Too Litle Not Too Much yang ditulis oleh fotografer dan penulis perjalanan asal Nigeria, yaitu Lola Akinmade Akerstrom yang berjudul tentang Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia mengatakan bahwa justru itu bagus, karena kamu sudah membantu dia buat mengelola ekspektasinya dia ke kamu.

 

 

Selasa, 16 Mei 2023

 

M. Zunan Asrofi


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❀CAHAYA YANG MENYELAMI RAHASIA RUANG❀

Pada zaman ketika pikiran manusia masih seperti kabut pagi yang menyelimuti dataran luas, Euclid  muncul sebagai seorang penjelajah yang berani menembus tirai ketidakpastian. Disebut sebagai Bapak Geometri , perjalanannya bukan hanya mengejar angka atau bentuk melainkan mencari tali penghubung antara apa yang terlihat dan apa yang bisa dipahami oleh akal budi. Di lorong-lorong perpustakaan Alexandria yang sejuk, di mana naskah-naskah kuno berbaris seperti pasukan prajurit yang siap bertempur, Euclid duduk menyusun peta jalan bagi ilmu pengetahuan. Ia menghabiskan berbulan-bulan merenungkan karya-karya pendahulunya dari Thales yang pertama kali membuktikan teorema hingga Pythagoras yang menemukan hubungan mistis antara angka dan alam. Ia melihat bahwa matematika dan filsafat bukanlah dua dunia yang terpisah melainkan dua sayap yang membawa manusia ke alam pemikiran yang lebih tinggi. “ Seperti air yang membentuk wadahnya, ” katanya kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitarnya,...

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

JEDA DARI ANGKA

 Jeda Dari Angka By: Nafiatus Salma        Hari-hari kutulis dengan rumus, penuh tanda tambah dan kurung yang tak selalu seimbang. Kadang hasilnya tepat, kadang justru tak bisa kuhitung. Di papan tulis hidup, aku belajar lebih dari sekadar integral dan limit — tentang batas kesabaran, dan luasnya hati yang tak bisa diukur satuan apa pun. Aku lelah, tapi tak ingin berhenti. Aku salah, tapi masih mau mencoba.        Karena hidup tak pernah sesempurna deret geometri, tapi lebih mirip soal cerita yang belum selesai. Maka malam ini, kututup buku catatan dan kubuka diri. Kusimpan angka, kutulis kata. Sebab kadang, yang paling membuat kita bertumbuh bukanlah hasil hitungannya, melainkan jeda yang kita ambil di antaranya