Langsung ke konten utama

Api dan Malam

 Api dan Malam





Oleh : A. Rayya Rizal Romli

Pada suatu malam yang terang, aku dan pemuda-pemuda di desa sedang berkumpul untuk bercengkrama sembari menikmati hidangan bakar. Saat itu aku menjadi seorang yang tugasnya membolak-balik ayam yang dibakar diatas api unggun d i teras rumah. Ketika aku mulai bosan dan melihat ke arah api unggun tersebut, aku ingat dengan sebuah kisah yang pernah kubaca dalam suatu buku. Kisah tersebut menceritakan tentang seorang siswi. Al kisah dimulai ketika suatu yayasan berkunjung ke monumen peninggalan untuk melakukan pengamatan pada monumen tersebut. Dianggitakan beberapa siswa/siswi dan seorang guru sebagai pendamping, mereka menuju ke situs peninggalan tersebut. Ketika tiba di situs monumen, para siswa/siswi saling berkelompok dan berpencar dan melihat-lihat di sekeliling situs tersebut. Tak terasa semakin jauh dari rombongan, seorang siswi dengan antusiasnya yang tinggi dia mengamati situs monumen peninggalan itu sampai-sampai dia sedikit demi sedikit terpisah dari teman-temannya. Setelah merasa cukup lama berada pada situs peninggalan, guru memerintahkan mereka untuk kembali ke bis untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sialnya ketika sang guru mengira bahwa seluruh siswa dan siswi telah kembali ke bis, ternyata ada seorang siswi yang tertinggal karena dia terlalu tenggelam dalam pengamatannya dan berpencar terlalu jauh dari rombongan. Ketika siswi tersebut sadar dan segera kembali ke tempat berkumpul, rombongan tersebut telah melanjutkan perjalanannya. Siswi tersebut berteriak memanggil teman dan gurunya namun tak ada satupun jawaban yang terdengar. Alhasil dia berjalan dari situs tersebut mencari desa yang terdekat sebelum malam datang. Tak terasa dia sudah berjalan jauh untuk mencari desa terdekat sampai-sampai dia sadar bahwa matahari tak lama lagi akan bergeser dari tempatnya. Ketika itu dia melihat suatu gubuk yang sederhana. Dengan nafas yang sedikit lega dia mendatangi dan mengetuk pintu gubuk tersebut. Ketika pintu itu terbuka ia dikejutkan dengan seorang pemuda berusia 20an dengan pakaian yang sederhana menyambutnya. Pemuda tersebut menatap keheranan kepada siswi tersebut sembari bertanya, “Kamu siapa?” lalu siswi itu menjawab, “Saya siswi, saya kesini untuk melakukan pengamatan bersama teman dan guru saya, namun saya tertinggal dari rombongan sendirian dan tidak tahu harus kemana.” Lalu pemuda itu menjawab, “Disini merupakan desa yang terisolasi, ada suatu desa di selatan yang banyak terdapat transportasi namun jaraknya cukup jauh. Karena hari sudah mulai gelap, lebih baik kalau kamu beristirahat disini dan melanjutkan perjalananmu besok.” Siswi itu pun menerima saran pemuda tersebut. Singkat cerita saat hari mulai gelap, pemuda tersebut menyuruhnya untuk tidur di kasur, sedangkan dia tidur di lantai sudut kamar. Kemudian pemuda tersebut mengambil kain untuk ditautkan pada tali sebagai pembatas antara sisi kamar tidur dengan sudut kamar. Siswi tersebut berbaring dengan rasa takut, ia menyelimuti dirinya sampai-sampai yang tersisa hanyalah kedua matanya yang menatap pemuda tersebut di pojok kamar sembari membawa buku dan sebuah lilin. Lalu selang beberapa saat kemudian pemuda tersebut menutup buku yang ia baca lalu mulai menatap lilin yang di depannya. Secara perlahan dia meletakkan ibu jarinya diatas lilin hingga melepuh terbakar. Tak cukup sampai disitu dia melanjutkannya dengan membakar seluruh jarinya yang tersisa. Melihat kejadian itu siswi hanya bisa menangis terdiam karena takut dengan pemuda ini. Dia beranggapan apakah pemuda ini gila atau dia sedang mempersiapkan ritual khusus keagamaan tertentu. Al hasil mereka tidak tidur sampai pagi hari. Singkay cerita si pemuda mengantarkan siswi tersebut ke kotanya dengan selamat. Ketika siswi tersebut menceritakan kejadian yang ia alami di malam itu kepada orang tuanya, mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. Maka pergilah orang tua siswi tersebut untuk memeriksa kebenaranya dan menemui pemuda tersebut. Singkat cerita orang tua siswi tersebut bertemu dengan pemuda itu sebagai seorang musafir dan berpura-pura bertanya untuk memberitahukan jalan ke suatu tempat. Ketika orang tua siswi tersebut melihat tangan pemuda tersebut mereka bertanya kepada pemuda tersebut, maka pemuda itu menjawab, “ Dua malam yang lalu, ada seorang gadis yang sangat cantik tersesat dan tidur bersama saya. Setan berbisik kepada saya. Saya khawatir akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Maka saya putuskan untuk membakar jadi jemari saya satu persatu agar syahwat setan ikut terbakar bersamanya sebelum iblis membuat tipu daya kepada saya. Pemikiran untuk mencelakai gadis itu lebih menyakiti saya daripada terbakar api.”

Mendengar hal itu orang tua siswi sangat kagum kepada pemuda tersebut dan mengajaknya ke rumah. Ia putuskan untuk menikahkannya dengan putrinya. Pemuda tersebut tidak mengetahui bahwa perempuan yang akan dinikahinya adalah siswi yang tersesat 2 malam yang lalu. Sebagai ganti dari menahan diri dari 1 malam yang haram tersebut, si pemuda memperoleh kemenangan mendapatkan yang halal untuk seumur hidupnya.

Tak terasa telah tenggelam dalam lamunku sendiri, aku bergegas mengangkat ayam yang tengah kubakar tadi yang sudah dalam kondisi sedikit gosong. Setelah menyelesaikan tugas membakar ayam tadi, aku pun bergabung dengan teman-teman untuk menikmati hidangan yang telah siap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

BERPUISI DENGAN DENDAM

 "BERPUISI DENGAN DENDAM" Karya :Farisna Amalia K Puisi ini bermula pada keheningan malam Saat udara dingin mendekap tubuh lalu terdiam. Hingga, Terbentang sebuah pemikiran mendalam Akan kenangan-kenangan kelam yang di genggam Menyelimuti tubuh dengan tajam, kejam, dan menikam. Mata terpejam tak bergerak Menyempurnakan ribuan potongan kecil di benak Yang terus-menerus mendobrak, bergejolak,  dan memberontak tanpa ampun menyerbu hingga meledak, dan menyeruak. Bibirku kelu untuk mengungkapkan, Hanya perasaan yang mampu untuk mendefinisikan. Ingin ku ulang, Namun, semua hanya angan yang tertahan di pikiran. Sampai pada akhirnya aku disadarkan oleh kenyataan, Semua yang berakhir tak akan pernah terulang, Semua hanya tinggal serpihan yang terkenang, Meninggalkan jejak yang menyesakkan.

Abadi

 Abadi   By : Indy Deciavani Marifatus S Tentang sosok yg tiba tiba datang, menetap, lalu pergi. Aku tidak tau harus memulai cerita ini darimana. Mungkin dari pertama kali kita bertemu ya? kita sebut aja "my first love". Awal perkenalan kita memang singkat. Jujur saja, aku jatuh cinta padamu karna rambutmu yg sangat lucu itu. Entah kenapa setiap kamu berlari, rambut mu bisa seperti "twing - twing" hehe... itulah yg membuat aku tertarik padamu. Aku pikir perasaan ini ngga akan lama, tetapi aku salah.  Semakin hari aku melihatmu, aku semakin jatuh cinta padamu, hingga aku berasumsi bahwa kamu adalah milikku. Tibalah hari dimana pertama kali aku bisa bermain denganmu, hari dimana aku pertama kali merasakan dibonceng sama kamu. Jujur disitu rasanya campur aduk antara senang tetapi juga deg deg an, karna aku belum pernah merasakan hal sekecil ini yg bisa buat aku bahagia, terlebih dari orang yg aku sayang. Dari situ lah kita menjadi semakin dekat, dan tibalah di hari ...