by: UMI NIKMATUL MAULA
"Bun, abang mana?" lirih laki-laki mungil yang terbaring di brankar rumah sakit.
Wajahnya penuh lebam. Kulitnya putih pucat. Tangannya terpasang selang infus.
"Udah, kamu istirahat aja," balas sang bunda tak kalah lirih.
Suasana ruangan serba putih itu sunyi. Hingga lelaki dengan kumis tipis datang dan membangun suasana.
"Adek udah enakan?" tanyanya menghilangkan sunyi.
Lelaki bernama Alfarezi itu hanya mengangguk. Pria berusia dua belas tahun itu tak ingin bersuara.
"Tadi kata dokter. Adek besok udah boleh pulang."
"Beneran, Yah? Berarti bisa ketemu Abang dong? Adek kangen banget sama Abang. Dua hari di rumah sakit ga ketemu Abang sama sekali."
Sejak pertengkaran yang cukup mengerikan itu terjadi. Sang bunda tak mengizinkan kakak adik itu bertemu. Bukan maksud memisahkan, hanya saja bundanya tak mau terjadi pertengkaran lagi.
"Abang Rizi liburan ke rumah nenek, Sayang. Tapi kita tetep tahun baruan bareng kok."
Alfarizi dan Alfarezi, dua saudara yang jika bertemu selalu bertengkar. Namun, jika berjauhan selalu menanyakan. Sayangnya berengkarnya bisa dibilang melebihi batas. Hingga sang adik masuk rumah sakit karena ulah sang kakak.
Liburan semester dimanfaatkan Rizi untuk ke rumah neneknya yang cukup jauh dari kota ini. Bukan maksud apa-apa. Hanya saja memberi waktu untuk kedua putranya saling baikan.
Lebih tepatnya orang tuanya memberi hukuman untuk Rizi, Rizi sengaja di asingkan orang tuanya di kediaman neneknya. Tanpa gadget dan fasilitas apapun. Dia tidak mau kedua anaknya berselisih hingga bertengkar dan menimbulkan luka yang lebih fatal. Cukup kali ini saja.
Bukan berselisih, lebih tepatnya Rizi yang kelepasan dan menghajar Rezi. Dan tanpa sadar kelepasan itu membuat Rezi sampai bermalam rumah sakit.
Mendengar itu Rezi yang tadinya semangat untuk pulang, menjadi hilang semangat.
"Tapi bisa kan video call?"
"Adek lupa kalo nenek tidak bisa pake handphone kayak adek?" tutur sang bunda pada putra bungsunya.
Ponsel yang digunakan neneknya adalah ponsel lama yang hanya bisa digunakan untuk telepon. Yang tidak ada jaringan internet.
"Kan Abang bawa ponsel, Bun."
"Kemarin tuh ponsel Abang ketinggalan di meja, Sayang. Abang kemarin buru-buru mau ke rumah nenek."
Jawaban dari sang bunda itu membuat Rezi kehilangan senyumnya. Ia sangat rindu pada sang kakak.
***
Malam demi malam pun berlalu. Dan malam ini adalah malam tahun baru. Rezi juga sudah keluar dari rumah sakit. Dia sudah tidak betah bermalam di rumah sakit. Juga tidak bisa membendung rasa rindunya pada abangnya.
Tahun baru kali ini sangat dinantikan Rezi. Bukan kembang api yang menghiasi langit. Tapi kakak kesayangannya akan datang malam ini untuk merayakan tahun baru bersama.
Ya, ayahnya menjanjikan pada Rezi jika kakaknya akan kembali malam ini. Dan Rezi menagih janji itu.
"Yah, Abang masih lama ya?" tanyanya pada sang ayah. Itu bukan pertanyaan kali pertama. Namun sudah lima kali pertanyaan itu dilayangkan.
"Kamu kangen banget ya sama Abang kamu?" tanya sang Ayah mengusap surai putranya.
Rezi menjawab dengan anggukan.
"Bentar lagi Abang kamu datang kok. Ini lagi di perjalanan."
Rezi pun setia menunggu kedatangan sang kakak. Lelah menunggu hingga dia pun tertidur.
Rezi pun terbangun ketika ada yang menggoyangkan bahunya. Dia pun duduk dengan tangan mengucek mata untuk mengembalikan kesadaran.
"Abang sudah datang ya?"
"Belum, Sayang. Tadi katanya pengen lihat kembang api."
Senyum yang tadi terukir pun sirna. Harapan sang kakak untuk datang semakin kecil. Apakah bang Rizi-nya tidak jadi datang?
"Udah jangan cemberut. Lihat itu siapa yang ada di depan."
Tanpa menunggu waktu lama. Dia pun langsung melompat dan segera mencari keberadaan abangnya.
Melihat Rezi berbincang dengan ayahnya. Dia spontan berteriak memanggil.
"Abang!"
Seperti lupa waktu jika ini sudah tengah malam. Teriak kencang seperti siang hari.
Rezi pun melompat, memeluk sang kakak. Rizi diam sesaat, melihat raut kedua orang tuanya. Kemudian membalas pelukan Rezi meskipun tak seerat pelukan Rezi.
"Eji kangen Bang Iji," tutur Rezi ketika pelukan mereka terlepas.
"Adik kamu itu sayang banget sama kamu. Tapi kamu malah buat dia celaka. Kalo berantem itu yang wajar-wajar aja." Nasihat orang tuanya beberapa bulan lalu kembali berdengung di telinganya.
"Kamu sehat kan?" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Rizi.
"Sehat, dong! Bang Iji ke rumah nenek ga ajak-ajak Eji."
Rizi cuma diam. Dalam hatinya merutuk ingin cepat ke kamar tanpa drama seperti ini.
Dia merindukan kamarnya, dia merindukan guling kesayangannya, dia merindukan gadgetnya.
"Adek, Bang Iji capek habis perjalanan jauh. Biarin abangnya istirahat dulu ya."
Rizi ingin beranjak ke kamar. Tapi suara kembang api mengalihkan perhatiannya.
"Yeyy, tahun baru," teriak Rezi dengan gembira.
Meskipun dia sudah masuk SMP. Tapi jiwanya masih kecil. Berbeda dengan Rizi, jiwanya sudah dewasa sebelum usianya menginjak dewasa. Keadaan menuntutnya demikian.
Rizi menatap kembang api yang menghiasi langit. "Tahun baru yang penuh drama," batin Rizi.
Dia benci drama.
***
Setelah melewati masa liburan yang panjang juga sepi, kini masa liburan itu telah usai. Sepi di sini memiliki artian tanpa liburan. Liburan si bungsu dipenuhi dengan rumah sakit. Dan liburan si sulung dipenuhi dengan pedesaan yang tanpa gadget.
Berselisih usia dua tahun membuat Rizi dan Rezi berada di jenjang sekolah yang sama berulang kali. Tentu, tak aneh jika mereka berada di satu sekolah yang sama.
"Bocil itu ga buntutin lo lagi?" tanya Ilham pada Rizi.
Hampir satu semester pertama di SMP, setiap jam istirahat Rezi selalu membuntuti Rizi. Dan itu tentu membuat Rizi jengah.
"Ga tau, lebih baik gitu."
Memasuki area kantin, pemandangan tak mengenakkan berada di depan Rizi. Pria itu menghentikan langkahnya. Mengamati apa yang sedang terjadi.
"Ngapain berhenti?" tanya Ilham yang bingung melihat temannya. Dia pun mengikuti arah pandang Rizi.
"Itu adik lo bukan sih?"
Pemandangan yang dimaksud itu Rezi sedang dikerubungi oleh anak laki-laki kelas delapan. Tapi yang menjadi pertanyaan Rizi, apa yang dilakukan mereka?
Kini dia tau apa yang dilakukan gerombolan anak kelas delapan itu. Mengambil uang saku milik Rezi beserta merampas makanan yang ada di meja.
Tangan Rizi mengepal, rahangnya mengeras dengan sendirinya. Tatapannya tak luput dari anak-anak yang membuat keonaran itu. Dia pun mendekat dengan langkah yang membuat seisi kantin menatapnya ketakutan.
Rizi tak berbicara. Tapi tangannya merampas kembali makanan milik Rezi.
Rizi diam saja, anak-anak yang membuat keonaran itu langsung mengembalikan makanan yang mereka rampas.
"Udah gue bilangin kan, itu adiknya bang Rizi," lirih salah satu anak menyenggol lengan temannya.
"Bang, ma-af Bang. Kita ga tau kalo dia adiknya bang Rizi. Beneran, Bang. Ampun, Bang."
Rizi bukanlah most wanted. Tapi ternyata para murid menakutinya. Padahal Rizi bukanlah anak yang suka cari keonaran. Hanya saja, dia terkenal berani melawan preman yang biasa nongkrong di sekitar sekolah ini.
"Kalian rampas apalagi?"
"Ga ada, Bang. Beneran udah ga ada," balasnya ketakutan.
Mereka pun segera berlari menjauhi kakak beradik itu. Ilham yang tadinya tak berani mendekat. Kini berani mendekat.
Rizi menaruh makanan yang tadi dirampas. "Jadi laki jangan lemah!"
***
Perbedaan karakter diantara keduanya. Tentu menjadi perbedaan yang sangat mencolok. Rizi yang tidak suka ribet, tidak suka banyak bicara. Ditakdirkan memiliki adik yang bisa dibilang banyak bicara. Tentu hal itu menjadi hal yang menjenuhkan untuk Rizi.
Seperti saat ini, mereka berdua sedang lari pagi. Rizi yang sejak tadi diam. Dan Rezi sejak tadi mengoceh.
"Bang, udah Bang! Berhenti dulu, Eji capek."
"Kamu istirahat aja. Abang mau lanjut."
Orang tua mereka mengajarkan untuk tidak menggunakan panggilan lo-gue. Tapi namanya Rizi tetap menggunakan kalimat itu. Hanya saja, untuk keluarga dia sangat menghindari panggilan lo-gue. Dan memilih aku-kamu.
Rizi melanjutkan larinya untuk memutari lapangan. Sedangkan Rezi memilih istirahat. Bukan Rezi yang mudah capek. Tapi memang Rizi yang tidak punya lelah dalam hal berlari.
Hampir satu putaran, langkah Rizi melambat. Itu karena fokusnya teralihkan dengan keberadaan adiknya yang dikerubungi tiga preman.
Rizi pun segera berlari mendekat ke arah sang adik. Menarik mundur Rezi dan menghadang preman-preman itu.
"Sok-sokan pahlawan kesiangan."
Rizi tetaplah Rizi. Ga banyak bicara dan tetap diam.
Salah satu preman maju melawan Rizi. Tapi pria itu berhasil kalahkan. Dua lainnya maju melawan Rizi.
Padahal saat itu juga banyak orang melakukan aktivitas yang sama. Tapi sayangnya mereka terlalu individual dan abai dengan sekitar.
"Rezi lari!" fokus Rizi teralihkan pada preman yang tadi tumbang. Kini preman itu mendekat ke Rezi.
Kesempatan itu dijadikan dua preman di depannya untuk mengalahkannya. Rizi tumbang dan dipukuli habis-habisan.
Rizi tak peduli tubuhnya babak belur. Fokusnya pada adiknya yang ditangkap oleh preman yang tadi tumbang.
Tangannya mengepal, amarahnya memuncak kala adiknya menjerit kesakitan.
Dengan sisa tenaga, Rizi menghantam preman yang menangkap Rezi. Tentu kesempatan itu dijadikan Rezi untuk lari.
Dia sebenarnya ingin membantu kakaknya. Tapi dia tidak punya keberanian untuk mendekat.
"Rezi lari!" titah Rizi tanpa mengalihkan fokusnya. Dia seperti kesetanan untuk menghantam preman-preman itu.
Hingga pisau menancap di badannya membuat dia kehilangan banyak darah. Pandangannya pun mulai meredup. Teriakan Rezi terdengar bersamaan dengan netranya yang tertutup sempurna.
"Bang Rizi!"
Ketika terjadi pertumpahan darah. Barulah orang-orang disekitar situ mengerubungi. Terlambat memang.
Sejak tadi pertengkaran terjadi seperti acuh. Setelah darah menyebar barulah menarik perhatian.
Ketiga preman itu pergi ketika warga mulai mendekat. Beberapa ada yang mencoba menahan tapi berhasil kabur.
Rezi menangis menyebut nama sang kakak. Sampai di rumah sakit pun masih tetap menangis. Orang tuanya segera ke rumah sakit ketika mendengar kabar tidak mengenakkan itu.
"Bang, maafin Eji. Gara-gara Eji Abang jadi seperti ini," lirih Rezi melihat melalui kaca rumah sakit.
Rezi menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Dia takut kehilangan kakaknya.
Sadar jika orang tuanya datang. Rezi pun mengabaikannya. Pandangannya tetap terfokus pada Rizi yang sedang dirawat.
Sang bunda yang datang dengan keadaan mata basah, semakin menangis kala melihat keadaan putra bungsunya.
Sampai akhirnya dokter keluar. Sepasang suami istri itu pun langsung menemui sang dokter.
Hingga kabar buruk pun terdengar.
Rezi berlari masuk ruangan dengan tangisnya. Tak peduli jika dokter melarang dia masuk. Ia hanya ingin menemui sang kakak.
"Bang Iji bangun ya. Maafin Eji. Eji janji bakal berani."
Deru air mata terus mengalir. Mata yang sejak tadi basah tak hentinya mengeluarkan air. Hingga netranya sembab dibuatnya.
"Abang, Eji kangen."

Komentar
Posting Komentar