Langsung ke konten utama

Ketika Sepiring Nasi Menjadi Ujian Kesabaran

 Ketika Sepiring Nasi Menjadi Ujian Kesabaran




Karya: Achmad Fakih Nurul Hakim

    

    Siang itu begitu terik. Langit bersih tanpa awan, tapi hawa panasnya menyesakkan. Aku duduk di tepi jalan, tidak untuk mengemis, bukan pula karena ingin dilihat orang. Aku hanya lelah. Lelah menahan lapar, lelah menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa. Sejak pagi perutku belum terisi. Bukan karena aku sedang berpuasa, tapi memang tak ada yang bisa dimakan. Satu-satunya uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos pulang. Itu pun jika nanti aku memang benar-benar pulang.

    Dari tempatku duduk, terlihat sebuah warung makan kecil di seberang jalan. Aroma masakannya terbawa angin, mengusik inderaku yang sudah terlalu sering bertahan. Beberapa orang keluar masuk, membawa bungkusan, membawa kenyang. Aku hanya menunduk, menenangkan diri agar tidak berharap apa-apa. Kepalaku mulai terasa berat. Lelah dan lapar seperti berlomba-lomba menekan pikiranku. Dalam hati, aku berusaha tetap bersabar. Aku percaya, seberapa kecil pun ujian ini, ada sesuatu yang sedang Allah ajarkan padaku. Tentang ikhlas, tentang sabar, dan tentang rendah hati.

    Tanpa aku sadari, seseorang mendekat dan meletakkan sepiring nasi di hadapanku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Tapi langkah kakinya pergi dengan tenang, seperti orang yang tahu bahwa yang ia lakukan bukan untuk dipuji siapa pun. Aku menatap piring itu lama. Satu piring nasi hangat, dengan lauk sederhana. Tapi tidak pernah ada yang sesederhana itu ketika dibarengi dengan ketulusan. Aku menunduk, menahan air mata yang sudah tak bisa lagi dibendung. Bukan karena lapar semata, tapi karena Allah menunjukkan bahwa aku tidak sendiri.

    Sepiring nasi hari itu bukan sekadar makanan. Ia menjadi pengingat bahwa hidup tidak pernah benar-benar sepi dari pertolongan. Hanya saja, kadang ia datang setelah kita belajar menunggu, menahan, dan percaya. Hari itu aku tak hanya kenyang. Aku juga belajar, bahwa sabar bukan soal diam. Tapi tentang menjaga harapan, bahkan ketika tidak ada yang menjanjikan apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

BERPUISI DENGAN DENDAM

 "BERPUISI DENGAN DENDAM" Karya :Farisna Amalia K Puisi ini bermula pada keheningan malam Saat udara dingin mendekap tubuh lalu terdiam. Hingga, Terbentang sebuah pemikiran mendalam Akan kenangan-kenangan kelam yang di genggam Menyelimuti tubuh dengan tajam, kejam, dan menikam. Mata terpejam tak bergerak Menyempurnakan ribuan potongan kecil di benak Yang terus-menerus mendobrak, bergejolak,  dan memberontak tanpa ampun menyerbu hingga meledak, dan menyeruak. Bibirku kelu untuk mengungkapkan, Hanya perasaan yang mampu untuk mendefinisikan. Ingin ku ulang, Namun, semua hanya angan yang tertahan di pikiran. Sampai pada akhirnya aku disadarkan oleh kenyataan, Semua yang berakhir tak akan pernah terulang, Semua hanya tinggal serpihan yang terkenang, Meninggalkan jejak yang menyesakkan.

Abadi

 Abadi   By : Indy Deciavani Marifatus S Tentang sosok yg tiba tiba datang, menetap, lalu pergi. Aku tidak tau harus memulai cerita ini darimana. Mungkin dari pertama kali kita bertemu ya? kita sebut aja "my first love". Awal perkenalan kita memang singkat. Jujur saja, aku jatuh cinta padamu karna rambutmu yg sangat lucu itu. Entah kenapa setiap kamu berlari, rambut mu bisa seperti "twing - twing" hehe... itulah yg membuat aku tertarik padamu. Aku pikir perasaan ini ngga akan lama, tetapi aku salah.  Semakin hari aku melihatmu, aku semakin jatuh cinta padamu, hingga aku berasumsi bahwa kamu adalah milikku. Tibalah hari dimana pertama kali aku bisa bermain denganmu, hari dimana aku pertama kali merasakan dibonceng sama kamu. Jujur disitu rasanya campur aduk antara senang tetapi juga deg deg an, karna aku belum pernah merasakan hal sekecil ini yg bisa buat aku bahagia, terlebih dari orang yg aku sayang. Dari situ lah kita menjadi semakin dekat, dan tibalah di hari ...