" Wayang Orang Sriwedari"
By: Ainayya Azalea
Wayang Orang Sriwedari: Warisan Budaya Jawa yang Terus Menari di Panggung Sejarah
Wayang orang, atau dalam bahasa Jawa disebut wayang wong, merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang lahir dan berkembang di tanah Jawa. Tidak seperti wayang kulit yang menggunakan boneka kulit sebagai media pertunjukan, wayang orang menjadikan manusia sebagai tokoh hidup yang memainkan peran-peran klasik dari kisah-kisah pewayangan. Para pemainnya tampil di atas panggung dengan busana megah, perhiasan khas, serta rias wajah yang menyerupai tokoh-tokoh dalam cerita Mahabharata atau Ramayana. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai luhur, ajaran moral, dan filosofi kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun.
Kehadiran Wayang Orang Sriwedari
Salah satu bentuk pertunjukan wayang orang
yang paling terkenal dan masih lestari hingga kini adalah Wayang Orang
Sriwedari. Kesenian ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi
budaya Kota Surakarta (Solo). Pertunjukan ini tidak hanya menampilkan lakon
pewayangan secara dramatik, tetapi juga merupakan gabungan yang harmonis antara
seni tari klasik, musik gamelan, pedalangan, dan seni peran.
Yang menjadikan Wayang Orang Sriwedari
istimewa adalah kehadiran tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk,
dan Bagong. Mereka tidak hanya menjadi pelengkap cerita, tetapi juga
menyisipkan humor khas Jawa yang ringan namun menyentuh. Banyolan dan guyonan
mereka sering kali dikaitkan dengan isu-isu sosial atau situasi kehidupan
sehari-hari, sehingga membuat pertunjukan terasa hidup dan dekat dengan
penonton.
Asal Usul Sejarah dan Nilai Budaya
Berdasarkan informasi dari laman resmi
Pemerintah Kota Surakarta, cikal bakal Wayang Orang Sriwedari bermula pada masa
pemerintahan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS)
Pakubuwono X, yang memerintah antara tahun 1893 hingga 1939. Pada masa itu,
pertunjukan ini dihadirkan sebagai bagian dari hiburan rakyat yang bernilai
edukatif, sekaligus sebagai bentuk pelestarian budaya tradisional. Taman
Sriwedari, tempat pertunjukan ini diselenggarakan hingga kini, awalnya
merupakan taman kerajaan yang kemudian dijadikan ruang terbuka publik.
Cerita-cerita yang dipentaskan hampir
semuanya bersumber dari epos besar Mahabharata dan Ramayana, dua karya sastra
India kuno yang telah diakulturasi dan diadaptasi dalam konteks budaya Jawa.
Lakon-lakon seperti “Abimanyu Gugur,” “Kresna Duta,” “Anoman Obong,” dan
“Rahwana Gugur” merupakan kisah-kisah yang sarat pesan moral, tentang
pengorbanan, keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab.
Gerak tari dalam pertunjukan ini berasal
dari gaya tari istana Mangkunegaran, yang kemudian disederhanakan agar dapat
dinikmati oleh semua kalangan. Meskipun telah mengalami adaptasi, gerakan tari
tersebut tetap mengikuti kaidah dan pakem tari Jawa klasik, seperti konsep
patrap, sabet, dan sawiji.
Eksistensi dan Tantangan di Era Modern
Selama lebih dari seabad, Wayang Orang
Sriwedari telah menjadi salah satu pilar budaya Jawa yang masih bertahan. Di
tengah arus globalisasi dan gempuran budaya populer, eksistensi kesenian ini
tidak lepas dari berbagai tantangan. Penonton yang semakin berkurang,
regenerasi pemain yang tidak mudah, hingga persoalan pendanaan, menjadi
hambatan yang terus dihadapi.
Namun demikian, berkat dukungan pemerintah
daerah, seniman lokal, dan komunitas pecinta budaya, pertunjukan ini masih
mampu digelar secara rutin. Generasi muda pun mulai dilibatkan dalam proses
latihan dan pertunjukan, sebagai upaya pewarisan budaya yang berkelanjutan.
Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, pertunjukan Wayang Orang Sriwedari telah
dipadukan dengan teknologi pencahayaan modern, promosi digital, serta
pengemasan ulang cerita agar lebih relevan dengan isu-isu kontemporer.
Wayang Orang Sriwedari bukan hanya sebuah
pertunjukan seni, melainkan cerminan dari jiwa masyarakat Jawa yang menjunjung
tinggi nilai, estetika, dan kearifan lokal. Ia hadir sebagai ruang refleksi,
edukasi, sekaligus hiburan, yang membentuk identitas budaya dan menjadi
pengingat bahwa warisan leluhur harus senantiasa dirawat dan dijaga.

Komentar
Posting Komentar