Di abad ke-18, sebagian besar orang hidup tanpa pernah membayangkan bagaimana matematika akan membentuk dunia di masa depan. Namun, Euler tidak hanya membayangkannya ia merancangnya. Pria kelahiran Basel, Swiss ini, memandang matematika bukan sebagai tumpukan angka yang rumit dan membosankan, melainkan sebagai bahasa alam semesta yang sangat indah.
Hampir semua simbol matematika yang kita temui di bangku sekolah hari ini mulai dari f(x) untuk fungsi, i untuk bilangan imajiner hingga penggunaan huruf Yunani ฯ (pi) dan ฮฃ (sigma) untuk penjumlahan adalah warisan yang dipopulerkan oleh Euler.
Namun, kisah hidup Euler bukanlah cerita tentang jenius yang mulus tanpa hambatan. Di tengah puncak karier akademisnya, ia harus menghadapi cobaan terberat bagi seorang ilmuwan kebutaan. Pada usia 30-an, penglihatan mata kanannya mulai rusak. Bertahun-tahun kemudian, katarak merenggut penglihatan mata kirinya, meninggalkannya dalam kegelapan total.
Bagi kebanyakan orang, kondisi ini akan menjadi akhir dari segalanya. Tapi Euler justru membuktikan bahwa penglihatannya yang sebenarnya berada di dalam pikiran. Dengan ingatan fotografis yang luar biasa dan daya imajinasi spasial yang tajam, ia terus berkarya. Di kepala luarnya ada kegelapan, tetapi di kepala dalamnya, kalkulus, teori angka, hingga dinamika fluida terus menari dengan tenang. Ia mendiktekan rumus-rumus rumit kepada anak-anak dan asistennya, dan anehnya, kecepatan publikasinya justru meningkat saat ia tidak lagi bisa melihat.
Euler adalah tipe ilmuwan yang tidak menyukai kerumitan yang tak perlu. Salah satu karya terbaiknya lahir saat warga kota Kรถnigsberg berdebat apakah seseorang bisa melintasi tujuh jembatan kota tanpa melewati jembatan yang sama dua kali. Euler menyederhanakan peta kota itu menjadi titik dan garis sederhana, membuktikan bahwa hal itu mustahil, dan secara tidak sengaja melahirkan cabang matematika baru yang sekarang kita kenal sebagai Teori Graf dasar yang dipakai untuk algoritma Google Maps dan jaringan internet hari ini.
Ketika Euler meninggal pada tahun 1783, ia meninggalkan ratusan makalah yang membutuhkan waktu puluhan tahun bagi para ilmuwan lain hanya untuk menerbitkannya.
Kisah Euler adalah pengingat bahwa rasa ingin tahu yang murni tidak bisa dihentikan oleh keterbatasan fisik. Ia tidak membutuhkan matanya untuk melihat kebenaran alam semesta ia hanya membutuhkan pikirannya yang tak pernah berhenti menjelajah.

Komentar
Posting Komentar