Di dunia matematika, kita sering disibukkan dengan rumus dan angka. Namun, pernahkah kita berpikir, siapa sebenarnya sosok jenius dibaliknya? Menariknya tak semua berawal dari analisis yang kaku. Saat Rene Descartes berbaring, di langit langit kamar hinggap seekor lalat yang merayap bebas ke sana ke mari. Alih alih mengusirnya, Descartes justru berpikir: Bagaimana cara kita merekam posisi lalat itu secara pasti menggunakan bahasa angka? Dari rasa ingin tahu yang sederhana itu, ia menyadari bahwa posisi lalat dapat ditentukan dengan mengukur jaraknya dari dua dinding yang saling tegak lurus. Pengamatan inilah yang melahirkan sebuah Sistem Koordinat Kartesius.
Rene Descartes merupakan seorang matematikawan sekaligus filsuf asal Prancis kelahiran tahun 1596. Sejak kecil, Descartes memiliki fisik yang agak lemah, sehingga gurunya memberikan izin istimewa baginya untuk menghabiskan pagi hari dengan berbaring santai di tempat tidur sambil merenung. Dari kebiasaan inilah sejarah matematika modern bergeser ke arah yang jauh lebih berkembang. Descartes berhasil menjembatani Aljabar (angka dan persamaan) serta Geometri (bentuk dan ruang) menjadi satu bidang baru yang dikenal sebagai Geometri Analitik. Berkat jasanya, bentuk-bentuk geometri kini bisa dibaca melalui persamaan angka, dan sebaliknya, sebuah persamaan bisa divisualisasikan ke dalam bentuk ruang.
Sebagai seorang matematikawan, Descartes mengajarkan kita bahwa ide besar tidak selalu lahir dari laboratorium mahal atau meja kerja yang kaku. Kadang kala, ia hanya butuh rasa ingin tahu yang tinggi, pikiran yang terbuka, dan kepekaan dalam melihat hal-hal kecil di sekitar kita.
"Untuk menemukan kebenaran, seseorang harus meragukan segala hal setidaknya sekali dalam seumur hidupnya." — René Descartes

Komentar
Posting Komentar