Langsung ke konten utama

Postingan

Arca Totok Kerot, Jejak Sejarah di Kediri

 Arca Totok Kerot, Jejak Sejarah di Kediri Karya: Tri Budi Hamam Ma'ruf Kediri bukan hanya terkenal dengan sejarah kerajaan dan budayanya, tapi juga peninggalan-peninggalan unik yang masih bisa kita lihat sampai sekarang. Salah satunya adalah Arca Totok Kerot yang berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kediri.Arca ini memiliki bentuk yang cukup mencolok karena wajahnya menyerupai raksasa. Ukurannya besar dan kokoh, terbuat dari batu andesit yang dipahat dengan detail pada bagian mata, mulut, serta hiasan kepala. Masyarakat sekitar menyebutnya Totok Kerot karena ekspresi wajahnya yang terlihat garang dan sedikit "menyeringai".Menurut cerita rakyat, arca ini dikaitkan dengan sosok raksasa perempuan yang memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Kediri. Ada versi yang menyebut bahwa Totok Kerot adalah penunggu atau pengawal kerajaan, ada pula yang menghubungkannya dengan kisah cinta dan penolakan dari seorang raja. Meski begitu, cerita ini lebih bersifat legenda, sementar...

DEMO KITA TAK BISA DI BUNGKAM

Demo Kita Tak Bisa Dibungkam  Karya: Suhita Anjani Indonesia kembali diguncang gelombang demo besar yang meluas ke berbagai provinsi. Aksi bermula dari keresahan rakyat atas tunjangan mewah anggota DPR, lalu memuncak setelah seorang pemuda, Affan Kurniawan, tewas akibat tertabrak kendaraan taktis Brimob. Suara rakyat pun semakin lantang bergema di jalanan. Kerusakan mencapai ratusan miliar, korban jiwa berjatuhan, dan ratusan orang ditahan. Sorotan tajam datang dari media, masyarakat sipil, hingga dunia internasional. PBB dan lembaga HAM mengecam tindakan aparat yang dinilai represif, sementara pemerintah dikritik karena lamban merespons krisis. Demo ini memperlihatkan tarik-menarik antara aspirasi rakyat dan stabilitas nasional. Rakyat ingin didengar, bukan dibungkam. Pemerintah harus lebih peka dan terbuka, sementara rakyat perlu menjaga damai dalam menyuarakan kebenaran. Demo kemarin adalah cermin demokrasi kita: suara rakyat tidak boleh dibungkam, dan stabilitas bangsa harus te...

Indonesia Rumah Kita

 "Indonesia Rumah Kita" Karya:  Vicky Auwalinda      Indonesia bukan hanya sebuah nama di peta dunia. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, dan tanah yang menjadi tempat berpijak serta beristirahat. Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir, tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Rumah ini mungkin tidak selalu sempurna. Ada saat-saat ia goyah, diterpa badai perpecahan, bahkan retak oleh ego dan kesalahpahaman. Namun, bukankah rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar memperbaiki, bukan meninggalkan? Indonesia adalah rumah yang tidak boleh kita abaikan, karena di sinilah akar dan masa depan kita tertanam.         Di rumah bernama Indonesia, kita menemukan beragam bahasa, budaya, adat, dan agama. Semua itu ibarat perabotan yang berbeda bentuk, warna, dan fungsi, tetapi justru membuat rumah semakin indah dan lengkap. Kita tidak perlu sama untuk bisa bersatu, cukup saling memahami bahwa perbeda...

PEREMPUAN: NAFAS HIKMAH DALAM RIUHNYA DUNIA

 "Perempuan: Nafas hikmah dalam riuhnya dunia" Karya: Arrian Ardiansyah Perempuan bukan sekadar ciptaan, ia adalah tanda kasih Tuhan yang hadir dalam bentuk paling lembut—namun paling kuat. Di balik kelembutannya, ada doa yang tak pernah putus. Di balik senyumnya, ada kesabaran yang terus tumbuh. Ia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari kepala untuk dijunjung, bukan dari kaki untuk diinjak, tapi dari sisi yang dekat dengan hati— untuk dicintai, dilindungi, dan dimuliakan. Perempuan adalah hikmah yang hidup. Dalam diamnya, ia mengajarkan makna syukur. Dalam tangisnya, terkandung harapan yang terus dibawa dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia tidak selalu bersuara lantang, tapi kehadirannya mampu menuntun, melembutkan, bahkan menyelamatkan. Kiprahnya membentang dari rumah ke penjuru dunia. Sebagai ibu, ia mendidik peradaban. Sebagai istri, ia menjadi penyejuk dalam badai kehidupan. Sebagai anak, ia membawa cahaya berkah bagi kedua orang tua. Dan sebagai hamba, ia tunduk...

CAHAYA HARAPAN BAGI MAHASISWA YANG SELALU BERUSAHA

" Cahaya Harapan bagi Mahasiswa yang Selalu Berusaha" Karya: Mohammad Wildan Sulton Alifi Cahaya Harapan bagi Mahasiswa yang Selalu Berusaha Pernah aku merasa langkahku berat, bukan karena tak kuat, tapi karena dunia seakan bergerak terlalu cepat. Target demi target berlari di depan mata, sementara aku masih mencoba berdiri dengan kaki sendiri. Setiap pagi dimulai dengan tekad, tapi kadang malam datang membawa cemas. Tugas menumpuk, jadwal padat, mimpi-mimpi yang terasa jauh, dan aku bertanya, “Apakah semua ini akan sepadan?” Di ruang kelas, di perpustakaan, di organisasi yang penuh semangat, aku lihat wajah-wajah yang juga lelah, tapi tetap tersenyum, menyembunyikan beban di balik kata "baik-baik saja." Namun di tengah gelapnya rasa ragu, ada cahaya kecil yang terus menyala. Dari pelukan keluarga di ujung telepon, dari dosen yang berkata “kamu bisa,” dari teman seperjuangan yang diam-diam jadi alasan untuk tetap kuat. Aku sadar, usaha ini bukan tentang sempurna, ta...

Ruang Hampa dan Harapan dalam Ekspresi Mahasiswa

Ruang Hampa dan Harapan dalam Ekspresi Mahasiswa   Karya:  Putri Melati Ayu Febrianti Aku pernah merasa ruang di dalam kepalaku kosong.   Bukan karena tak ada yang dipikirkan justru terlalu banyak.   Tugas, ekspektasi, tekanan, dan suara-suara yang tak henti bergema,   tapi tak ada satu pun yang benar-benar mewakili diriku sendiri. Di kampus, semuanya tampak sibuk.   Berjalan cepat dengan mata penuh rencana dan ambisi.   Aku ikut dalam arus itu tersenyum di luar, tapi kadang bingung di dalam.   “Apa aku sudah cukup?”   “Apa semua ini akan menuju ke sesuatu yang berarti?” Di balik buku catatan dan layar laptop yang menyala,   aku menyimpan pertanyaan yang tak sempat terucap:   “Siapa aku dalam sistem ini?” Tapi lalu aku menemukan satu hal kecil.   Sebuah kalimat di buku catatan teman.   Sebuah puisi dari majalah kampus.   Sebuah senyuman dari seseorang ya...

Antara Suara Diri dan Suara Mereka

 "Antara Suara Diri dan Suara Mereka" Karya: Dhelista Ria Lestari           Aku bukan tipe orang yang suka ribut di grup. Aku juga bukan orang yang selalu punya pendapat beda sendiri. Aku tipe yang diam saat diskusi, gampang setuju, dan bilang “oke” meski dalam hati ada keraguan. Dan orang-orang suka itu. Mereka bilang aku fleksibel, enak diajak ke mana aja, gak ribet. Awalnya aku merasa itu pujian. Tapi lama-lama aku sadar, aku gak pernah benar-benar jujur tentang apa yang aku inginkan.           Hal kecil seperti memilih tempat nongkrong aja, aku selalu ikut pilihan mereka. Mereka suka kopi, aku ikut—padahal perutku gak kuat kafein. Mereka suka musik keras, aku ikut—padahal kepalaku nyut-nyutan. Mereka suka nongkrong sampai malam, aku ikut—padahal aku lebih nyaman sendiri di rumah. Tapi aku terus ngikut, karena aku takut. Takut gak dianggap. Takut dibilang beda sendiri. Takut dicap gak asik.       ...