Langsung ke konten utama

Postingan

Diam Bukan Berarti Tak Berarti

 "Diam Bukan Berarti Tak Berarti" Karya: Ana Chabibatul Firdausyah Di suatu sore yang teduh, seorang gadis bernama chacha duduk termenung di bawah pohon besar dekat rumahnya. Ia merasa lelah dan kecewa setelah beberapa kali mengalami kegagalan saat mengikuti lomba video kreatif dan konten digital. Meski sudah berusaha sebaik mungkin, hasilnya selalu saja belum memuaskan. Perlahan, rasa minder mulai menghampiri, ditambah dengan omongan orang-orang di sekitarnya yang kerap memberikan prasangka buruk padanya. Chacha ingat betul sebuah kutipan yang pernah ia baca, “Bahkan berdiam diri saja masih tidak selamat dari prasangka buruk manusia.” Ia tersenyum getir, karena merasa apa pun yang ia lakukan selalu saja ada komentar negatif. Bahkan saat memilih diam pun, tetap saja dianggap salah. Di tengah kegundahannya, chacha memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Di sana, ia menemukan sebuah catatan kecil yang dulu pernah ia tulis saat sedang termotivasi. Tertulis jelas di sana, “Batas ke...

Sepotong Senja Dan Semangkuk Maaf

 "Sepotong Senja Dan Semangkuk Maaf" Karya: A. Rayya Rizal Romli  Setiap senja, cahaya kekuningan menyelinap lewat jendela kamar, menyapu pigura berdebu yang menggantung di dinding. "Bapak dan Ibuk," bisikku pada foto usang itu. Sebelas tahun sudah suara tawa Bapak tak lagi mengisi rumah, hanya Ibuk yang bertahan di tengah rutinitas kami bertiga: aku, Adikku yang bersepeda ke sekolah pukul tujuh, dan Ibuk yang berjalan kaki ke tokonya yang sederhana. Rumah ini selalu terkunci rapat sejak pagi, sunyi dan dingin, seolah napasnya ikut menguap saat kami pergi.  Sepulang sekolah, aku sering menyendiri di kamar, menatap lemari kayu usang di sudut. Di sana tersimpan album foto Bapak dan vas bunga plastik peninggalan Bapak. Ibuk kerap duduk di depannya, melipat baju-baju bekas sambil bergumam, "Kalian harus jadi anak kuat. Jangan seperti Ibuk." Kalimat itu seperti kerikil di sepatu: mengganjal, tapi harus diinjak terus. Aku tahu maksudnya: kami harus berjuang. Tap...

Bahagia Itu Sederhana

"Bahagia Itu Sederhana" Karya: Salwa Agus Tiara  Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak bernama Awan. Dia bukan anak orang kaya, rumahnya sederhana, dan hidup pun seadanya. Tapi Awan selalu merasa cukup dan hidup bahagia bersama ibunya. Setiap pagi, dia membantu ibunya menyapu halaman sebelum berangkat sekolah. Sepulang sekolah, dia bermain di sungai bersama teman-temannya, berlari-lari di sawah, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Suatu hari, seorang lelaki dari kota datang ke desa itu. Ia memperhatikan Awan yang tertawa lepas sambil berlarian di tengah hujan. Dengan heran, lelaki itu bertanya, “Nak, apa yang membuatmu begitu bahagia?”Awan tersenyum lebar. “Aku nggak tahu, Om. Aku cuma merasa senang bisa bermain, makan bersama keluarga, tidur nyenyak di malam hari, itu sudah cukup buatku.” Lelaki itu terdiam dan merenungi kehidupannya. Selama ini dia selalu bekerja keras di kota, mengejar uang, dan kesuksesan. Namun, dia selalu merasa a...

Cahaya Ramadhan di Rumah Sederhana

"Cahaya Ramadhan Di Rumah Sederhana" By: Jonathan Alif Rizkyano Malam itu, bulan sabit menggantung di langit, bersinar lembut di antara gemerlap bintang. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, seorang bocah bernama Ilham duduk di teras, menatap langit dengan mata berbinar. Besok adalah awal Ramadhan, bulan yang paling ia nantikan setiap tahun. "Bu, nanti sahurnya kita makan apa?" tanya Ilham sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Ibunya, Bu Siti, tersenyum lembut. "Kita makan apa saja yang ada, Nak. Yang penting niatnya." Ilham mengangguk. Sejak kecil, ia terbiasa dengan kehidupan sederhana. Ayahnya sudah lama tiada, dan ibunya bekerja sebagai penjahit rumahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski tak berlimpah harta, Ilham selalu diajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan dari apa yang dimiliki, tapi dari rasa syukur dan keikhlasan. Saat sahur tiba, Ilham bangun dengan penuh semangat. Di meja, hanya ada sepiring nasi dengan telur dadar dan sambal. ...

Abadi

 Abadi   By : Indy Deciavani Marifatus S Tentang sosok yg tiba tiba datang, menetap, lalu pergi. Aku tidak tau harus memulai cerita ini darimana. Mungkin dari pertama kali kita bertemu ya? kita sebut aja "my first love". Awal perkenalan kita memang singkat. Jujur saja, aku jatuh cinta padamu karna rambutmu yg sangat lucu itu. Entah kenapa setiap kamu berlari, rambut mu bisa seperti "twing - twing" hehe... itulah yg membuat aku tertarik padamu. Aku pikir perasaan ini ngga akan lama, tetapi aku salah.  Semakin hari aku melihatmu, aku semakin jatuh cinta padamu, hingga aku berasumsi bahwa kamu adalah milikku. Tibalah hari dimana pertama kali aku bisa bermain denganmu, hari dimana aku pertama kali merasakan dibonceng sama kamu. Jujur disitu rasanya campur aduk antara senang tetapi juga deg deg an, karna aku belum pernah merasakan hal sekecil ini yg bisa buat aku bahagia, terlebih dari orang yg aku sayang. Dari situ lah kita menjadi semakin dekat, dan tibalah di hari ...

BERPUISI DENGAN DENDAM

 "BERPUISI DENGAN DENDAM" Karya :Farisna Amalia K Puisi ini bermula pada keheningan malam Saat udara dingin mendekap tubuh lalu terdiam. Hingga, Terbentang sebuah pemikiran mendalam Akan kenangan-kenangan kelam yang di genggam Menyelimuti tubuh dengan tajam, kejam, dan menikam. Mata terpejam tak bergerak Menyempurnakan ribuan potongan kecil di benak Yang terus-menerus mendobrak, bergejolak,  dan memberontak tanpa ampun menyerbu hingga meledak, dan menyeruak. Bibirku kelu untuk mengungkapkan, Hanya perasaan yang mampu untuk mendefinisikan. Ingin ku ulang, Namun, semua hanya angan yang tertahan di pikiran. Sampai pada akhirnya aku disadarkan oleh kenyataan, Semua yang berakhir tak akan pernah terulang, Semua hanya tinggal serpihan yang terkenang, Meninggalkan jejak yang menyesakkan.

RASA YANG ANEH

Rasa Yang Aneh Karya : Tunjung Seto B Tuhan, aku adalah hambamu yang selalu berdoa kepada-Mu, merangkai harapan agar Engkau hadirkan sosok yang dapat menemaniku dalam setiap langkah usaha dan cita-citaku. Dalam keheningan malam, saat bintang-bintang berkelip seolah mendengarkan doaku, aku bertanya-tanya, apakah dia benar-benar orang yang Kau takdirkan untukku? Ketika aku merasakan kenyamanan saat bersamanya, di sisi lain, gelisah menggelayuti pikiranku seperti awan kelabu yang tak kunjung pergi.  Apakah pertemuan ini adalah cara-Mu untuk mengajarkanku sesuatu? Dalam diam, aku mencuri pandang pada senyumnya yang tulus, namun di balik senyuman itu, ada bayang-bayang keraguan yang terus menghantuiku. Tuhan, aku menyayanginya, tetapi apakah perasaannya padaku sama? Dalam setiap detik yang berlalu, hatiku bergetar, tidak hanya karena cinta, tetapi juga karena ketidakpastian yang tak kunjung sirna. Aku dibuat nyaman oleh kata-katanya yang manis, seolah ia seorang pujangga yang ...